Bagi
masyarakat di pedesaan terutama yang berbatasan dengan hutan, tanaman ini tidak
asing lagi. Tanaman yang menjadi sumber penghidupan
bagi petani penyadap karena dapat mengalirkan rupiah setiap hari. Cairan manis dari
pohon ini dijadikan sebagai bahan baku
gula merah atau lebih dikenal dengan gula aren. Yah, “tanaman aren”, tanaman
yang memiliki fungsi ekonomi, sosial dan ekologi.
Namun
sekarang tanaman ini mulai jarang ditemukan seiring dengan semakin langkanya
musang sebagai spesies kunci bagi penyebaran dan perkembang biakan tanaman aren
di alam. Selain itu penebangan tanaman
aren di usia muda untuk diambil patinya sangat mengancam siklus hidup dari
tanaman ini.
Untuk
mencegah kelangkaan tanaman ini, maka perbanyakannya harus tidak tergantung ke
alam lagi. Namun sebelum itu, marilah kita mengenal lebih dekat terlebih dahulu
dengan tanaman yang istimewa ini.
Nama Lokal : Aren
Nama Ilmiah : Arenga
pinnata
Nama Lain
:
nau, hanau,
peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung
Malaya); kawung, taren (Sunda); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di
Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara)